SLEMAN – Direktorat Riset dan Pengabdian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan rangkaian pelatihan edukasi dan mitigasi bencana bagi Pramuka Penegak, Pandega, serta Pramuka Dewasa, pada Rabu, 4 Februari 2026, bertempat di Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna, Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen UMY, dengan tujuan meningkatkan kapasitas generasi muda dalam memahami mitigasi bencana, kesiapsiagaan, serta penguatan peran relawan berbasis edukasi dan kearifan lokal.

Dalam sambutannya, GKR Hayu selaku Ketua Kwartir Daerah (KaKwarda) Gerakan Pramuka DIY menyampaikan bahwa generasi saat ini berpotensi sering menghadapi bencana alam. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk mempelajari mitigasi bencana, termasuk upaya pencegahan melalui pengelolaan sampah.

GKR Hayu berharap kolaborasi ini dapat mengubah paradigma pembangunan masyarakat menuju kemandirian ekonomi dan sosial. Menurutnya, pengolahan sampah tidak hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai guna yang dapat terhubung dengan sektor UMKM. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada UMY serta berharap kegiatan ini menjadi awal yang baik bagi kerja sama yang lebih luas di masa mendatang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta pada pukul 07.30–08.00 WIB di Gedung Kaca Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna. Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, menandai dimulainya seluruh rangkaian pelatihan.

Sebelum memasuki sesi materi, peserta mengikuti tes awal sebagai upaya mengukur pemahaman dasar terkait kebencanaan. Selanjutnya, kegiatan pelatihan dilaksanakan secara paralel dalam tiga kelas.

Pada sesi pagi, Kelas A mengikuti pelatihan Voice of Readiness, yakni pelatihan public speaking bagi relawan muda sebagai komunikator tanggap bencana. Kelas B mendapatkan materi deteksi dini lubang gigi secara mandiri dan upaya pencegahannya bagi relawan bencana, sementara Kelas C membahas mitigasi bencana transportasi melalui edukasi lalu lintas.

Sesi berikutnya diisi dengan materi lanjutan berupa pembelajaran interaktif bahasa Inggris bertema keselamatan, pengelolaan obat dalam situasi darurat, serta penguatan literasi kebencanaan berbasis kearifan lokal.

Usai waktu ibadah dan istirahat, kegiatan kembali dilanjutkan dengan sesi siang yang membahas penguatan literasi kebencanaan melalui pembelajaran bahasa asing bernilai karakter, manajemen obat kebencanaan secara terpadu dari tahap kesiapsiagaan hingga rehabilitasi, serta pengembangan model kolaboratif pemerintah, akademisi, dan komunitas dalam mitigasi bencana berbasis pentahelix.

Sebagai bentuk evaluasi, peserta mengikuti tes akhir sebelum rangkaian kegiatan ditutup secara resmi pada sore hari.

Melalui kegiatan ini, diharapkan Pramuka sebagai agen perubahan mampu mengambil peran strategis dalam edukasi, mitigasi, serta penguatan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

Pewarta: Nur Ainun David Ilyasa (Ketua Dewan Saka Kominfo Kwarcab Sleman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *